Sabtu, 09 Januari 2010

Kala Hujan Turun

Kala Hujan Turun (sebuah cerita)

hujan

Hujan turun lagi. Meski garis arsirannya kerap membuatku terpesona tapi hari ini aku berharap hujan lebat tidak menjebakku bersama Mr.Hudioro disini.

“Kamu suka hujan nggak?” Untuk pertama kalinya Mr.Hudi bersuara, bersaing dengan suara hujan dan alunan musik klasik dari dalam toko kaset tempat kami berteduh.

“Sedikit.”

“Ow.. pantes!”

“Kenapa?”

“Kamu senyum-senyum sendiri kalo melihat hujan!”

Mr.Hudi nyengir sementara aku memberengut. Sejak hari itu Mr.Hudi belum pernah lagi menemaniku menikmati matahari senja. Mungkin marah, mungkin sibuk atau mungkin juga ia tahu cuaca tidak mengijinkanku untuk sering-sering kesana.

“Kamu nggak dingin, Rhein?”

“Sedikit.”

“Mau pake jaketku?”

Aku menggeleng. Mr.Hudi terdiam dan hanya menatap hujan yang tak kunjung reda. Sementara aku kembali sibuk dengan lamunanku sendiri.

“Kalo melihat hujan jadi inget puisinya Sapardi Djoko Damono ya?” suara Mr.Hudi mengusik lagi.

Aku tersenyum. “Yang mana?”

“Itu.. yang Aku Ingin. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

“Mr.Hudi…???” aku memanggil pelan.

“Apa?” Mr.Hudi menoleh, menatapku lembut.

“Kamu tidak sedang merayuku kan?”

“Hah.. Cerewet!!” Mr.Hudi langsung memalingkan muka, tapi aku masih sempat melihat rona merah mewarnai wajahnya. Diam-diam aku tersenyum, menatapi rinai hujan yang berebutan menyentuh bumi dan setengah mati menahan tawaku agar tidak pecah.

Kelak, setiap kali mendengar lagu Utopia aku selalu mengingat saat-saat ini bersama Mr.Hudi.

..aku selalu bahagia saat hujan turun..karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri..

1 komentar:

Pengikut